PENGARUH
PROFESIONALISME GURU
TERHADAP
MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA
DI
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 7
MUARO
JAMBI
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi
Salah Satu Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana
Strata Satu (S1)
dalam Ilmu Pendidikan
Matematika

OLEH :
NURJANNAH
TM. 070 542
MAHASISWA
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN
THAHA SAIFUDDIN
JAMBI
2011
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Dalam
era globalisasi sekarang ini, tuntutan terhadap kualitas dan relevansi
pendidikan semakin tinggi. Hal ini karena kebutuhan terhadap kualitas sumber
daya manusia (SDM) semakin tinggi pula. Kualitas sumber daya manusia (SDM)
ditentukan oleh beberapa hal, antara lain adalah kualitas pendidikan.
Sedangkan
kualitas pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas guru. Oleh karena itu,
kualitas guru menjadi salah satu fokus perhatian utama untuk terus-menerus
ditingkatkan. Karena pada dasarnya mengajar merupakan suatu pekerjaan
profesional yang membutuhkan pendidikan dan pelatihan khusus, sesuai dengan apa
yang diamanatkan oleh: Undang-undang
nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan.
|
Guru merupakan salah satu fasilitator yang
menunjang keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah
proses belajar mengajar secara formal di lembaga pendidikan khususnya sekolah. Guru
memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas
pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu guru harus memikirkan dan
membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi
siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Di tangan guru yang cekatan,
fasilitas dan sarana yang kurang memadai dapat diatasi, tetapi sebaliknya di
tangan guru yang kurang cakap, saran dan fasilitas yang canggih tidak banyak
memberi manfaat.
Pekerjaan
guru merupakan pekerjaan profesi, karena itu mesti dikerjakan sesuai dengan
tuntutan profesionalis, sehingga pekerjaan itu ditangani secara sungguh-sungguh
dan serius oleh orang yang memiliki profesi di bidang tersebut. Dalam Islam,
setiap pekerjaan harus dikerjakan secara profesional, dalam arti harus
dilakukan secara benar. Itu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang ahli.
Rasulullah SAW. bersabda: “Bila suatu
urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggu kehancuran”.[1]
Oleh karena itu keberadaan guru yang
profesional tidak bisa ditawar-tawar lagi. Guru yang profesional adalah guru
yang memiliki sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya. Guru berperan
sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar yang efektif
sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran
dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan
menguasai materi yang disampaikan agar tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai
secara maksimal.
Fenomena
yang penulis lihat di lapangan bahwa banyak siswa yang tidak mempunyai
keinginan untuk mengikuti proses belajar mengajar dikarenakan guru mereka yang
kurang bisa menyampaikan materi pelajaran sehingga mereka sulit memahami apa
yang dijelaskan oleh guru tersebut.
Sekolah
Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi merupakan salah satu dari sekian banyak
sekolah menengah di Muaro Jambi yang berusaha mencetak lulusan terbaik, keberhasilan
untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang
merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat. Jadi, minat
belajar merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai hasi belajar yang baik.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat dalam belajar dapat diusahakan agar
mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik
yang membuat materi pelajaran asyik untuk dipelajari. Gurulah yang berperan
utama untuk itu, guru yang dapat menyajikan bahan ajar yang dikemas secara
cantik dan menarik.
Salah
satu faktor utama untuk mencapai sukses dalam berbagai bidang, baik itu berupa
studi, kerja, hobi atau aktivitas apapun ialah minat. Minat merupakan bentuk
sikap ketertarikan atau sepenuhnya terlibat dengan suatu kegiatan karena
menyadari betapa pentingnya atau bernilainya kegiatan tersebut.[2]
Menumbuhkan
minat belajar seorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu
atau ingin melakukan sesuatu, sehingga siswa merasa ada kebutuhan dan ingin
melakukan sesuatu kegiatan belajar.
Minat
adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai
sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan
mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak
terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya
itu.[3]
Banyak
kasus penyebab kegagalan studi disebabkan karena kurangnya minat belajar.
Karena dengan adanya minat siswa akan lebih perhatian untuk melakukan segala
sesuatunya, siswa akan lebih konsentrasi dan tidak mudah bosan serta lebih
semangat untuk mempelajari sesuatu.
Matematika
adalah salah satu mata pelajaran yang wajib bagi siswa sejak memasuki tingkat
SMP. Sebagian besar siswa berpandangan bahwa mata pelajaran matematika
merupakan mata pelajaran yang paling sulit diantara sekian banyak mata
pelajaran. Hanya sedikit siswa yang benar-benar menyukai mata pelajaran
matematika. Faktor guru seringkali juga memiliki pengaruh terhadap hal ini.
Seorang
guru dalam menyampaikan pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam
belajar. Dengan adanya minat yang timbul maka besar juga usaha untuk
mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil yang baik.
Dari
pernyataan di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang
berjudul: “PENGARUH PROFESIONALISME GURU TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI
SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 7 MUARO JAMBI”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
permasalahan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui apakah ada pengaruh
yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa pada
bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi dengan
merumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1.
Berapa besar skor
profesionalisme guru matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro
Jambi?
2. Berapa besar skor minat belajar matematika
siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi?
3. Berapa besar pengaruh yang signifikan profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa pada bidang studi
matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi?
C. Batasan Masalah
Penelitian ini agar
tidak menyimpang dari tujuan semula maka perlu adanya masalah antara lain :
1. Penelitian ini peneliti batasi hanya dua variabel saja, yaitu :
a. Profesionalisme guru sebagai Independent
Variabel (variabel bebas), yakni variabel yang mempengaruhi yang selanjutnya disebut variabel X.
b. Minat belajar siswa
sebagai Dependent Variabel (variabel terikat), yakni variabel yang dipengaruhi
yang selanjutnya disebut variabel Y.
2.
Dalam
penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VII di Sekolah
Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi. Tahun ajaran 2010/2011. Sedangkan yang menjadi obyek dari penelitian ini adalah profesionalisme guru dan minat belajar siswa pada bidang studi matematika.
3.
Minat belajar siswa pada bidang studi
matematika yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah keinginan untuk mengikuti dan
merespon materi pelajaran yang disampaikan guru bidang studi.
4.
Profesionalisme guru dalam
penelitian ini hanya dibatasi pada pandangan siswa tentang guru tauladan yang
menjunjung tinggi kedisiplinan serta tanggung jawab dalam melaksanakan
tugasnya.
D.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan
Penelitian
a. Mengetahui besar skor profesionalisme guru bidang studi matematika di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.
b. Mengetahui besar skor minat belajar siswa kelas
VII dalam
mengikuti pembelajaran pada bidang studi matematika Sekolah
Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.
c. Mengetahui besar pengaruh
signifikan antara profesionalisme guru
terhadap minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.
2. Kegunaan
Penelitian
a.
Memberikan informasi kepada
Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi minat belajar siswa.
b.
Sebagai bahan masukan dan
informasi kepada para guru dan siswa dalam meningkatkan minat belajar siswa.
c.
Bagi peneliti dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia
pendidikan.
d.
Dapat memberikan sumbangan
pemikiran terhadap peningkatan mutu pendidikan.
e.
Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Pendidikan
Matematika pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam
Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
E. Kerangka Teori
1.
Profesioanalisme Guru
a.
Definisi Konseptual
Profesionalisme
berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu berhubungan dengan
profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, Sedangkan profesionalisme
adalah tingkah laku keahlian atau kualitas dan seseorang yang profesional.[4]
“Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental
dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan
dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Seorang guru yang memiliki
profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya
terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas professional melalui berbagai cara
dan strategi. Ia akan selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan
perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna
professional.[5]
Profesionalisme adalah suatu
terminologi yang menjelaskan bahwa setiap pekerjaan hendaklah dikerjakan oleh
seorang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya atau profesinya.[6]
Ini berarti guru yang professional adalah guru yang mengajar sesuai dengan
bidang dan keahliannya.
“… profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas
suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan
dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[7]
Profesional
adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[8]
“…profesionalisme
adalah orang yang mampu menjalankan profesi dengan keahlian tertentu.”[9]
Dari
beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa profesionalisme guru
artinya seseorang yang bekerja dengan keahlian serta kemahirannya dalam
mejalankan profesi sebagai seorang guru.
Ciri-ciri orang yang profesionalisme adalah:
1.
Disiplin, dalam islam
mengajarkan sikap disiplin yaitu melalui shalat yang diatur waktunya agar
melatih ummat Islam agar melaksanakan shalat tepat waktu dengan adanya pemisah
waktu.
2.
Berspesialisasi, di sini yang
dimaksud adalah mempunyai keterampilan tertentu dengan sangat mahir.
3.
Tekun dan tidak gampang bosan.
4.
Tidak menganggap sepele hal-hal
yang remeh, karena hal-hal ini bisa menjadi masalah dalam kemudian hari.
5.
Selalu belajar.
6.
Bertanggungjawab dengan
menepati janji.
7.
Konsisten dengan niat yang ia
tetapkan.[10]
Guru adalah jabatan professional yang memerlukan berbagai keahlian
khusus. Sebagai suatu profesi, jabatan guru menuntut kriteria professional
sebagai berikut:
a.
Fisik
1.
Sehat Jasmani
2.
Tidak mempunyai cacat tubuh
yang bisa menimbulkan ejekan/cemooh atau rasa kasihan dari anak didik.
b.
Mental / kepribadian
1.
Berkepribadian.
2.
Berbudi pekerti luhur.
3.
Berjiwa kreatif, dapat
memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal
4.
Mampu menyalurkan sikap
demokrasi dan penuh tenggang rasa
5.
Mampu mengembangkan kreativitas
dan tanggung jawab yang besar akan tugasnya.
6.
Mampu mengembangkan kecerdasan
yang tinggi.
7.
Bersifat terbuka, peka dan
inovatif.
8.
Menunjukkan rasa cinta terhadap
profesinya.
9.
Memiliki kedisiplinan yang
tinggi.
10.
Memiliki sense of humor
c.
Keilmiahan/pengetahuan
1.
Memahami ilmu yang dapat
melandasi pembentukan pribadi
2.
Memahami ilmu pendidikan dan
keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik.
3.
Memahami, menguasai, serta
mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan.
4.
Memiliki pengetahuan yang cukup
tentang bidang-bidang yang lain.
5.
Senang membaca buku-buku
ilmiah.
6.
Mampu memecahkan masalah secara sistematis,
terutama yang berhubungan dengan bidang studi.
7.
Memahami prinsip kegiatan
belajar mengajar
d.
Keterampilan
1.
Mampu menyusun bahan pelajaran
atas dasar pendekatan structural, interdialpliner, fungsional, behavior, dan
teknologi.
2.
Mampu menyusun Garis Besar
Program Pengajaran (GBPP)
3.
Mampu memecahkan dan
melaksanakan teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan.
4.
Mampu merencanakan dan
melaksanakan evaluasi pendidikan.
5.
Memahami dan mampu melaksanakan
kegiatan dan pendidikan luar sekolah.[11]
b.
Definisi Operasional
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan
untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan
prilaku profesional. Perwujudan dilakukan melalui berbagai cara, misalnya
penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, sikap hidup sehari-hari, hubungan
antar pribadi, dan sebagainya.
Guru yang professional adalah guru yang memiliki keahlian serta
pengetahuan dalam bidangnya. Dengan begitu menjadi peluang besar untuk mencetak
lulusan terbaik karena diajarkan oleh guru yang ahli. Guru yang professional
juga harus mempunyai kepribadian dan tingkah laku yang baik serta disiplin dan
tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Selain itu guru harus
mempunyai keterampilan dalam mengajar. Keterampilan dalam menguasai kelas dan
membuat pembelajaran menjadi menarik sehingga siswa tertarik mengikuti
pelajaran tersebut. Untuk melihat semua itu, peneliti membuat item angket
sebagai alat untuk mengumpulkan data-data tersebut. Adapun kisi-kisi
profesionalisme guru adalah sebagai berikut:
Tabel 1 ; Kisi-Kisi
Profesionalisme Guru
Variabel
|
Dimensi
|
Indikator
|
No.Item
|
Jumlah
|
|
+
|
-
|
||||
Profesionalisme guru
|
a. Kepribadian dan tingkah laku
|
· Memiliki disiplin yang tinggi
· Berpenampilan rapi saat mengajar
· Mempunyai wibawa yang tinggi
· Bertanggung jawab atas tugasnya
· Membimbing siswa yang belum mengerti
|
7,16,18,34,35
|
10,12,23,
|
15
|
b. Keahlian dan pengetahuan
|
· Memahami materi yang diajarkan
· Mampu menjelaskan pelajaran dengan baik
· Mampu menerangkan pelajaran dengan bahasa
yang mudah dimengerti siswa
|
6,11,19,21,24
|
13,22,25,26
|
11
|
|
c. Keterampilan dan kreativitas
|
· Menguasai kelas dengan baik
· Memiliki sense of humor
|
15,5,1
4,17,
|
29,27,28
|
9
|
|
- Minat Belajar
a.
Definisi Konseptual
Pada
hakekatnya secara psikis seseorang memiliki suatu kegiatan pada dirinya
berbeda-beda, misalnya motivasi, minat, bakat dan sebagainya. Sedangkan minat
sendiri merupakan ungkapan psikis yang sangat penting untuk mencapai suatu
kebutuhan manusia.[12]
Minat
adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.[13]
Minat
adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai
sesuatu yang dicita-citakan.[14]
Minat
adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan dan
campuran dari perasaan, harapan, prasangka, cemas, takut dan
kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan
tertentu.[15]
Minat
adalah kemampuan untuk memberi stimuli yang mendorong kita untuk memperhatikan
seseorang, sesuatu barang atau kegiatan yang dapat memberi pengaruh terhadap
pengalaman yang distimuli oleh kegiatan itu sendiri.[16]
Minat
merupakan kecenderungan yang dimiliki oleh setiap orang / individu untuk
menyukai atau tidak menyukai sesuatu objek tertentu.[17]
Minat pada
dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan
sesuatu di lur diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar
minatnya.[18]
Minat
mempunyai andil yang sangat besar dan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai
prestasi belajar dan kerja seseorang.[19]
Tanpa adanya minat belajar misalnya, siswa tidak akan dapat menerima pelajaran
yang diberikan oleh guru secara maksimal, sehinnga tujuan pembelajaran tidak
dapat tercapai secara optimal.
Menurut Slameto, siswa yang berminat dalam belajar mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Mempunyai kecenderungan yang
tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus
menerus.
2.
Ada rasa suka dan senang pada
sesuatu yang diminati.
3.
Memperoleh suatu kebanggaan dan
kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu
aktivitas-aktivitas yang diminati.
4.
Lebih menyukai suatu hal yang
menjadi minatnya daripada yang lainnya.
5.
Dimanifestasikan melalui
partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.[20]
Dari
beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disintesis bahwa minat adalah
pernyataan psikis yang membuat seseorang berkeinginan memusatkan perhatian
untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.
Sedangkan belajar adalah
Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan
berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan
keadan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut
tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli,
kematangan, atau perubahan sementara dari organisme.[21]
Belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan
mengikuti arah tertentu.[22]
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang
melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari
proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.[23]
Belajar menurut sebagian orang, sebagaimana dinyatakan Burhanuddin Salam adalah semata-mata
mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk
informasi/materi studi.[24]
Dari
beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disintesis bahwa belajar adalah suatu
perubahan tingkah laku yang didapat dari aktivitas dan pengalaman. Perubahan
tersebut baik berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan
(psikomotor).
Dari pengertian
minat dan pengertian belajar di atas, dapat disintesis bahwa minat adalah rasa
lebih suka dan ketertarikan yang disertai dengan perhatian sehingga timbul rasa
keinginan untuk mengamati, membaca,
meniru, mencoba sesuatu, mendengar yang ditandai dengan
perubahan tingkah laku. Oleh karena itu seorang guru dalam menyampaikan
pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam belajar. Dengan timbulnya minat
yang besar maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan
diharapkan siswa memperoleh hasil belajar yang maksimal.
b.
Definisi Operasional
Setiap
siswa yang menuntut ilmu harus memiliki konsentrasi dalam belajar. Konsentrasi
dalam belajar adalah pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan
mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran
tersebut. Tanpa konsentrasi siswa tidak akan bisa menguasai
pelajarannya.Konsentrasi tidak ada atau akan berkurang bilamana tidak terdapat
minat yang memadai dalam diri siswa tersebut. Dari situ dapat diketahui betapa
pentingnya minat untuk mencapai sukses dalam segala hal termasuk dalam pembelajaran.
Minat merupakan keinginan dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Minat ditandai
dengan adanya perhatian sehingga menimbulkan ketertarikan terhadap sesuatu yang
diminati. Untuk itu, seseorang yang mempunyai minat biasanya memiliki
kecenderungan terhadap hal tersebut dan juga akan memperoleh kepuasan dan
kebanggaan terhadap sesuatu yang diminatinya.
Tabel 2 ; Kisi-Kisi Minat
Belajar
Variabel
|
Dimensi
|
Indikator
|
No.Item
|
Jumlah
|
|
+
|
-
|
||||
Minat Belajar
|
a. Keinginan dan Hasrat
|
· Adanya keinginan untuk belajar
· Mengulang pelajaran di rumah
|
1,3,4,8,9,20,33
|
2,30,
31,32
|
11
|
b. Perhatian dan ketertarikan
|
· Adanya perhatian terhadap pembelajaran
· Ada rasa ingin tahu terhadap materi yang
tidak dimengerti
|
7,16,18,34,35
|
10,12,23,
|
8
|
|
c. Kecenderungan
|
· Hadir tepat waktu
· Mengerjakan setiap tugas yang diberikan
|
6,11,19,21,24
|
13,22,25,26
|
9
|
|
d. Kepuasan
|
· Ingin mendapat penghargaan dan pujian
dalam belajar
· Adanya harapan dalam mengikuti pelajaran
dan cita-cita untuk sukses dalam belajar
· Ada rasa bangga terhadap nilai yang
tinggi
|
15,5,14,17,
|
29,27,28
|
7
|
|
- Analisis Pengaruh
Profesionalisme Guru terhadap Minat Belajar Siswa
Keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari
hasil belajar siswa yang merupakan hasil dari proses belajar siswa yang
dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya faktor yang paling pokok
yaitu minat belajar. minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan
yang diinginkan, tanpa adanya minat belajar, tujuan pembelajaran tidak akan
tercapai. Minat belajar tumbuh karena adanya ketertarikan siswa terhadap
pelajaran dan membangkitkan semangat belajar mereka, ketertarikan ini biasanya
sejalan dengan nuansa pembelajaran yang menyenangkan.
Di masa lalu dan mungkin sekarang, suasana lingkungan belajar sering
dipersepsikan sebagai suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang
merangsang, dan berlangsung secara monoton sehingga anak-anak belajar secara
terpaksa dan kurang beergairah.[25]
Guru merupakan faktor utama dalam penomena ini, metode serta gaya mengajar
gurulah yang menentukan apakah proses pembelajaran yang berlangsung akan
menyenangkan atau malah membosankan. Guru yang terampil dan mempunyai
kreativitas tinggi akan membuat pelajaran menjadi lebih menarik sehingga
pembelajaran terasa menyenangkan bagi siswa.
Oleh karena itu, peran guru sangat penting. Guru yang mempunyai jiwa
kreatif dan produktif serta mempunyai etos kerja dan komitmen yang tinggi
terhadap profesinya adalah salah satu ciri guru profesional.
F. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.[26]
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :.
Ha : Terdapat pengaruh
yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar matematika siswa.
H0 : Tidak
terdapat pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat
belajar matematika siswa.
[1] Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan
dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Rosda Karya, 2011, hlm.113
[3] http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/11/motivasi-dan-minat-belajar-siswa/,
[diakses tanggal 13 Februari 2011 pkl. 13:21]
[4] http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090313174036AAcG1Mo,
[diakses tanggal 24 Juni 2011 pkl. 21:23]
[5] http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090313174036AAcG1Mo,
[diakses tanggal 24 Juni 2011 pkl. 21:23]
[6] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga
Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm.3
[9]http://fikihbox.blogspot.com/2009/03/islam-dan-profesionalisme.html,
[diakses tanggal 25 Juni 2011 pkl. 7:45]
[10] http://fikihbox.blogspot.com/2009/03/islam-dan-profesionalisme.html,
[diakses tanggal 25 Juni 2011 pkl. 7:45]
[11] Hartono M. Joko Susito.
Pemberontakan Guru Menuju Peningkatan Kualitas. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. hlm.34-35
[20] http://www.informasiku.com/2010/12/minat-belajar-untuk-meningkatkan.html,
[diakses tanggal 25 Juni 2011 pkl. 6:52]
[21] Iskandar. Psikologi
Pendidikan (Sebuah orientasi Baru). Ciputat : Gaung Persada Press, 2009,
hlm.102
[22] Agus Suprijono. Cooperative Learning
(Teori dan Aplikasi Paikem). Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010, hlm.2
[26] Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2010, hlm.96
Tidak ada komentar:
Posting Komentar