Sabtu, 13 Juli 2013

PENGARUH PROFESIONALISME GURU TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 7 MUARO JAMBI

PENGARUH PROFESIONALISME GURU
TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA
DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 7
MUARO JAMBI



SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
dalam Ilmu Pendidikan Matematika



 



OLEH :

NURJANNAH
TM. 070 542




MAHASISWA FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SULTHAN THAHA SAIFUDDIN
JAMBI

2011

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi sekarang ini, tuntutan terhadap kualitas dan relevansi pendidikan semakin tinggi. Hal ini karena kebutuhan terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) semakin tinggi pula. Kualitas sumber daya manusia (SDM) ditentukan oleh beberapa hal, antara lain adalah kualitas pendidikan.
Sedangkan kualitas pendidikan banyak dipengaruhi oleh kualitas guru. Oleh karena itu, kualitas guru menjadi salah satu fokus perhatian utama untuk terus-menerus ditingkatkan. Karena pada dasarnya mengajar merupakan suatu pekerjaan profesional yang membutuhkan pendidikan dan pelatihan khusus, sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh: Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

1
 
Guru merupakan salah satu fasilitator yang menunjang keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah proses belajar mengajar secara formal di lembaga pendidikan khususnya sekolah. Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara seksama dalam meningkatkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya. Di tangan guru yang cekatan, fasilitas dan sarana yang kurang memadai dapat diatasi, tetapi sebaliknya di tangan guru yang kurang cakap, saran dan fasilitas yang canggih tidak banyak memberi manfaat.
Pekerjaan guru merupakan pekerjaan profesi, karena itu mesti dikerjakan sesuai dengan tuntutan profesionalis, sehingga pekerjaan itu ditangani secara sungguh-sungguh dan serius oleh orang yang memiliki profesi di bidang tersebut. Dalam Islam, setiap pekerjaan harus dikerjakan secara profesional, dalam arti harus dilakukan secara benar. Itu hanya mungkin dilakukan oleh orang yang ahli. Rasulullah SAW. bersabda: “Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang tidak ahli, maka tunggu kehancuran”.[1]
Oleh karena itu keberadaan guru yang profesional tidak bisa ditawar-tawar lagi. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya. Guru berperan sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar yang efektif sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak pelajaran dan menguasai materi yang disampaikan agar tujuan-tujuan pendidikan dapat dicapai secara maksimal.
Fenomena yang penulis lihat di lapangan bahwa banyak siswa yang tidak mempunyai keinginan untuk mengikuti proses belajar mengajar dikarenakan guru mereka yang kurang bisa menyampaikan materi pelajaran sehingga mereka sulit memahami apa yang dijelaskan oleh guru tersebut.
Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi merupakan salah satu dari sekian banyak sekolah menengah di Muaro Jambi yang berusaha mencetak lulusan terbaik, keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat. Jadi, minat belajar merupakan salah satu faktor penting dalam mencapai hasi belajar yang baik. Jika terdapat siswa yang kurang berminat dalam belajar dapat diusahakan agar mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik yang membuat materi pelajaran asyik untuk dipelajari. Gurulah yang berperan utama untuk itu, guru yang dapat menyajikan bahan ajar yang dikemas secara cantik dan menarik.
Salah satu faktor utama untuk mencapai sukses dalam berbagai bidang, baik itu berupa studi, kerja, hobi atau aktivitas apapun ialah minat. Minat merupakan bentuk sikap ketertarikan atau sepenuhnya terlibat dengan suatu kegiatan karena menyadari betapa pentingnya atau bernilainya kegiatan tersebut.[2]
Menumbuhkan minat belajar seorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu atau ingin melakukan sesuatu, sehingga siswa merasa ada kebutuhan dan ingin melakukan sesuatu kegiatan belajar.
Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu.[3]
Banyak kasus penyebab kegagalan studi disebabkan karena kurangnya minat belajar. Karena dengan adanya minat siswa akan lebih perhatian untuk melakukan segala sesuatunya, siswa akan lebih konsentrasi dan tidak mudah bosan serta lebih semangat untuk mempelajari sesuatu.
Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang wajib bagi siswa sejak memasuki tingkat SMP. Sebagian besar siswa berpandangan bahwa mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran yang paling sulit diantara sekian banyak mata pelajaran. Hanya sedikit siswa yang benar-benar menyukai mata pelajaran matematika. Faktor guru seringkali juga memiliki pengaruh terhadap hal ini.
Seorang guru dalam menyampaikan pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam belajar. Dengan adanya minat yang timbul maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil yang baik.
Dari pernyataan di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul: “PENGARUH PROFESIONALISME GURU TERHADAP MINAT BELAJAR MATEMATIKA SISWA DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 7 MUARO JAMBI”.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, penulis tertarik untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi dengan merumuskan beberapa permasalahan yaitu:
1.       Berapa besar skor profesionalisme guru matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi?
2.       Berapa besar skor minat belajar matematika siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi?
3.       Berapa besar pengaruh yang signifikan profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi?
C.    Batasan Masalah
Penelitian ini agar tidak menyimpang dari tujuan semula maka perlu adanya masalah antara lain :
1.      Penelitian ini peneliti batasi hanya dua variabel saja, yaitu :
a.       Profesionalisme guru sebagai Independent Variabel (variabel bebas), yakni variabel yang mempengaruhi yang selanjutnya disebut           variabel X.
b.      Minat belajar siswa sebagai Dependent Variabel (variabel terikat), yakni variabel yang dipengaruhi yang selanjutnya disebut variabel Y.
2.      Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi. Tahun ajaran 2010/2011. Sedangkan yang menjadi obyek dari penelitian ini adalah profesionalisme guru dan minat belajar siswa pada bidang studi matematika.
3.      Minat belajar siswa pada bidang studi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keinginan untuk mengikuti dan merespon materi pelajaran yang disampaikan guru bidang studi.
4.      Profesionalisme guru dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pandangan siswa tentang guru tauladan yang menjunjung tinggi kedisiplinan serta tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
D.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
a.       Mengetahui besar skor profesionalisme guru bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.
b.      Mengetahui besar skor minat belajar siswa kelas VII dalam mengikuti pembelajaran pada bidang studi matematika Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.
c.       Mengetahui besar pengaruh signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi.



2.      Kegunaan Penelitian
a.       Memberikan informasi kepada Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa.
b.      Sebagai bahan masukan dan informasi kepada para guru dan siswa dalam meningkatkan minat belajar siswa.
c.       Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan.
d.      Dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap peningkatan mutu pendidikan.
e.       Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
E.     Kerangka Teori
1.      Profesioanalisme Guru
a.      Definisi Konseptual
Profesionalisme berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, Sedangkan profesionalisme adalah tingkah laku keahlian atau kualitas dan seseorang yang profesional.[4]
“Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan tercermin dalam sikap mental serta komitmennya terhadap perwujudan dan peningkatan kualitas professional melalui berbagai cara dan strategi. Ia akan selalu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman sehingga keberadaannya senantiasa memberikan makna professional.[5]

Profesionalisme adalah suatu terminologi yang menjelaskan bahwa setiap pekerjaan hendaklah dikerjakan oleh seorang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya atau profesinya.[6] Ini berarti guru yang professional adalah guru yang mengajar sesuai dengan bidang dan keahliannya.

“… profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[7]

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[8]
“…profesionalisme adalah orang yang mampu menjalankan profesi dengan keahlian tertentu.”[9]
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa profesionalisme guru artinya seseorang yang bekerja dengan keahlian serta kemahirannya dalam mejalankan profesi sebagai seorang guru.
Ciri-ciri orang yang profesionalisme adalah:
1.      Disiplin, dalam islam mengajarkan sikap disiplin yaitu melalui shalat yang diatur waktunya agar melatih ummat Islam agar melaksanakan shalat tepat waktu dengan adanya pemisah waktu.
2.      Berspesialisasi, di sini yang dimaksud adalah mempunyai keterampilan tertentu dengan sangat mahir.
3.      Tekun dan tidak gampang bosan.
4.      Tidak menganggap sepele hal-hal yang remeh, karena hal-hal ini bisa menjadi masalah dalam kemudian hari.
5.      Selalu belajar.
6.      Bertanggungjawab dengan menepati janji.
7.      Konsisten dengan niat yang ia tetapkan.[10]
Guru adalah jabatan professional yang memerlukan berbagai keahlian khusus. Sebagai suatu profesi, jabatan guru menuntut kriteria professional sebagai berikut:
a.       Fisik
1.      Sehat Jasmani
2.      Tidak mempunyai cacat tubuh yang bisa menimbulkan ejekan/cemooh atau rasa kasihan dari anak didik.
b.      Mental / kepribadian
1.      Berkepribadian.
2.      Berbudi pekerti luhur.
3.      Berjiwa kreatif, dapat memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal
4.      Mampu menyalurkan sikap demokrasi dan  penuh tenggang rasa
5.      Mampu mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab yang besar akan tugasnya.
6.      Mampu mengembangkan kecerdasan yang tinggi.
7.      Bersifat terbuka, peka dan inovatif.
8.      Menunjukkan rasa cinta terhadap profesinya.
9.      Memiliki kedisiplinan yang tinggi.
10.  Memiliki sense of humor
c.       Keilmiahan/pengetahuan
1.      Memahami ilmu yang dapat melandasi pembentukan pribadi
2.      Memahami ilmu pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik.
3.      Memahami, menguasai, serta mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan.
4.      Memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang-bidang yang lain.
5.      Senang membaca buku-buku ilmiah.
6.      Mampu  memecahkan masalah secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi.
7.      Memahami prinsip kegiatan belajar mengajar
d.      Keterampilan
1.      Mampu menyusun bahan pelajaran atas dasar pendekatan structural, interdialpliner, fungsional, behavior, dan teknologi.
2.      Mampu menyusun Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
3.      Mampu memecahkan dan melaksanakan teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan.
4.      Mampu merencanakan dan melaksanakan evaluasi pendidikan.
5.      Memahami dan mampu melaksanakan kegiatan dan pendidikan luar sekolah.[11]



b.      Definisi Operasional
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan prilaku profesional. Perwujudan dilakukan melalui berbagai cara, misalnya penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dan sebagainya.
Guru yang professional adalah guru yang memiliki keahlian serta pengetahuan dalam bidangnya. Dengan begitu menjadi peluang besar untuk mencetak lulusan terbaik karena diajarkan oleh guru yang ahli. Guru yang professional juga harus mempunyai kepribadian dan tingkah laku yang baik serta disiplin dan tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugasnya. Selain itu guru harus mempunyai keterampilan dalam mengajar. Keterampilan dalam menguasai kelas dan membuat pembelajaran menjadi menarik sehingga siswa tertarik mengikuti pelajaran tersebut. Untuk melihat semua itu, peneliti membuat item angket sebagai alat untuk mengumpulkan data-data tersebut. Adapun kisi-kisi profesionalisme guru adalah sebagai berikut:


Tabel 1 ; Kisi-Kisi Profesionalisme Guru
Variabel
Dimensi
Indikator
No.Item
Jumlah
+
-
Profesionalisme guru
a. Kepribadian dan tingkah laku
·   Memiliki disiplin yang tinggi
·   Berpenampilan rapi saat mengajar
·   Mempunyai wibawa yang tinggi
·   Bertanggung jawab atas tugasnya
·   Membimbing siswa yang belum mengerti
7,16,18,34,35
10,12,23,
15
b. Keahlian dan pengetahuan
·   Memahami materi yang diajarkan
·   Mampu menjelaskan pelajaran dengan baik
·   Mampu menerangkan pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa
6,11,19,21,24
13,22,25,26
11
c.  Keterampilan dan kreativitas
·   Menguasai kelas dengan baik
·   Memiliki sense of humor
15,5,1

4,17,
29,27,28
9

  1. Minat Belajar
a.      Definisi Konseptual
Pada hakekatnya secara psikis seseorang memiliki suatu kegiatan pada dirinya berbeda-beda, misalnya motivasi, minat, bakat dan sebagainya. Sedangkan minat sendiri merupakan ungkapan psikis yang sangat penting untuk mencapai suatu kebutuhan manusia.[12]
Minat adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.[13]
Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan.[14]
Minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari kombinasi, perpaduan dan campuran dari perasaan, harapan, prasangka, cemas, takut dan kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu.[15]
Minat adalah kemampuan untuk memberi stimuli yang mendorong kita untuk memperhatikan seseorang, sesuatu barang atau kegiatan yang dapat memberi pengaruh terhadap pengalaman yang distimuli oleh kegiatan itu sendiri.[16]
Minat merupakan kecenderungan yang dimiliki oleh setiap orang / individu untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu objek tertentu.[17]
Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di lur diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.[18]
Minat mempunyai andil yang sangat besar dan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai prestasi belajar dan kerja seseorang.[19] Tanpa adanya minat belajar misalnya, siswa tidak akan dapat menerima pelajaran yang diberikan oleh guru secara maksimal, sehinnga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal.
Menurut Slameto, siswa yang berminat dalam belajar mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Mempunyai kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang sesuatu yang dipelajari secara terus menerus.
2.   Ada rasa suka dan senang pada sesuatu yang diminati.
3.   Memperoleh suatu kebanggaan dan kepuasan pada sesuatu yang diminati. Ada rasa keterikatan pada sesuatu aktivitas-aktivitas yang diminati.
4.   Lebih menyukai suatu hal yang menjadi minatnya daripada yang lainnya.
5.   Dimanifestasikan melalui partisipasi pada aktivitas dan kegiatan.[20]

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disintesis bahwa minat adalah pernyataan psikis yang membuat seseorang berkeinginan memusatkan perhatian untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.
Sedangkan belajar adalah Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan keadan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan sementara dari organisme.[21]


Belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar dan mengikuti arah tertentu.[22]
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.[23]
Belajar menurut sebagian orang, sebagaimana dinyatakan Burhanuddin Salam adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi studi.[24]
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disintesis bahwa belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang didapat dari aktivitas dan pengalaman. Perubahan tersebut baik berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotor).
Dari pengertian minat dan pengertian belajar di atas, dapat disintesis bahwa minat adalah rasa lebih suka dan ketertarikan yang disertai dengan perhatian sehingga timbul rasa keinginan untuk mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengar yang ditandai dengan perubahan tingkah laku. Oleh karena itu seorang guru dalam menyampaikan pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam belajar. Dengan timbulnya minat yang besar maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil belajar yang maksimal.
b.      Definisi Operasional
Setiap siswa yang menuntut ilmu harus memiliki konsentrasi dalam belajar. Konsentrasi dalam belajar adalah pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran tersebut. Tanpa konsentrasi siswa tidak akan bisa menguasai pelajarannya.Konsentrasi tidak ada atau akan berkurang bilamana tidak terdapat minat yang memadai dalam diri siswa tersebut. Dari situ dapat diketahui betapa pentingnya minat untuk mencapai sukses dalam segala hal termasuk dalam pembelajaran. Minat merupakan keinginan dan hasrat untuk melakukan sesuatu. Minat ditandai dengan adanya perhatian sehingga menimbulkan ketertarikan terhadap sesuatu yang diminati. Untuk itu, seseorang yang mempunyai minat biasanya memiliki kecenderungan terhadap hal tersebut dan juga akan memperoleh kepuasan dan kebanggaan terhadap sesuatu yang diminatinya.


Tabel 2 ; Kisi-Kisi Minat Belajar
Variabel
Dimensi
Indikator
No.Item
Jumlah
+
-
Minat Belajar
a. Keinginan dan Hasrat
·   Adanya keinginan untuk belajar
·   Mengulang pelajaran di rumah
1,3,4,8,9,20,33
2,30,
31,32
11
b. Perhatian dan ketertarikan
·   Adanya perhatian terhadap pembelajaran
·   Ada rasa ingin tahu terhadap materi yang tidak dimengerti
7,16,18,34,35
10,12,23,
8
c.  Kecenderungan
·   Hadir tepat waktu
·   Mengerjakan setiap tugas yang diberikan
6,11,19,21,24
13,22,25,26
9
d. Kepuasan
·   Ingin mendapat penghargaan dan pujian dalam belajar
·   Adanya harapan dalam mengikuti pelajaran dan cita-cita untuk sukses dalam belajar
·   Ada rasa bangga terhadap nilai yang tinggi
15,5,14,17,
29,27,28
7

  1. Analisis Pengaruh Profesionalisme Guru terhadap Minat Belajar Siswa
Keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya faktor yang paling pokok yaitu minat belajar. minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa adanya minat belajar, tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Minat belajar tumbuh karena adanya ketertarikan siswa terhadap pelajaran dan membangkitkan semangat belajar mereka, ketertarikan ini biasanya sejalan dengan nuansa pembelajaran yang menyenangkan.
Di masa lalu dan mungkin sekarang, suasana lingkungan belajar sering dipersepsikan sebagai suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang merangsang, dan berlangsung secara monoton sehingga anak-anak belajar secara terpaksa dan kurang beergairah.[25] Guru merupakan faktor utama dalam penomena ini, metode serta gaya mengajar gurulah yang menentukan apakah proses pembelajaran yang berlangsung akan menyenangkan atau malah membosankan. Guru yang terampil dan mempunyai kreativitas tinggi akan membuat pelajaran menjadi lebih menarik sehingga pembelajaran terasa menyenangkan bagi siswa.
Oleh karena itu, peran guru sangat penting. Guru yang mempunyai jiwa kreatif dan produktif serta mempunyai etos kerja dan komitmen yang tinggi terhadap profesinya adalah salah satu ciri guru profesional.
F.     Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk  kalimat pertanyaan.[26]
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :.
Ha :     Terdapat pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar matematika siswa.
H0 :     Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar matematika siswa.
 




[1] Ahmad Tafsir. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Rosda Karya, 2011, hlm.113
[6] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan, Bandung: Alfabeta, 2009, hlm.3
[7] Kunandar, Op.cit., hlm.46
[8] Iskandar. Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru. Jakarta: Gaung Persada Press, 2009, hlm.9
[11] Hartono M. Joko Susito. Pemberontakan Guru Menuju Peningkatan Kualitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm.34-35
[13] Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinnya. Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hlm.182
[15] Dewa Ketut Sukardi. Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Bina Aksara, 1988, hlm.46
[17] Lufri. Strategi Pembelajaran Biologi. Padang: UNP Press, 2007, hlm.119
[18] Djaali. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara, 2009, hlm.121
[19] Indri Shaffat. Optimized Learning Strategy. Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009, hlm.47
[21] Iskandar. Psikologi Pendidikan (Sebuah orientasi Baru). Ciputat : Gaung Persada Press, 2009, hlm.102
[22] Agus Suprijono. Cooperative Learning (Teori dan Aplikasi Paikem). Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010, hlm.2
[23] .Ibid., hlm.2
[24] Indri Shaffat, Op.cit., hlm.2
[25] Kunandar, Op.cit., hlm.42
[26] Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2010, hlm.96

Tidak ada komentar:

Posting Komentar